Resep Rawon Daging Sapi, Bumbu Kluwaknya Membuat Mabuk Kepayang

 

    Bayangkan sebuah mangkok putih dengan logo ayam jago. Di dalamnya berisikan potongan-potongan daging sapi yang tebal kecoklatan dan terlihat amat empuk, ditemani tauge pendek yang putih segar, dan disiram kuah harum berwarna coklat kehitaman. Di samping mangkok itu ada sepiring nasi putih dengan taburan bawang merah goreng, telur asin Brebes, serta kerupuk udang. Tak lupa sambel terasi dengan seiris kecil jeruk limau di sisinya. Hmmm…nikmat mana yang kau dustakan?


    Masakan apa yang terbayang setelah membaca ilustrasi tersebut? Ya, rawon. Rawon atau ‘blacksoup” demikian nama internasionalnya. Hidangan khas Jawa Timur yang melegenda. Jika warna gudeg bisa kecoklatan karena direbus dengan daun jati, yang mewarnai rawon adalah bumbu khususnya.  Warna kuahnya yang khas yaitu hitam kecoklatan, disebabkan oleh bumbu yang wajib ada pada rawon, yaitu kluwak. Memang kini banyak bumbu rawon instant, tetapi penambahan kluwak segar yang asli akan membuat kuah rawon lebih gurih dan berasa “rawon”.


                                               Rawon daging sapi komplit dengan pelengkapnya
                                                    Sumber gambar : Instagram @steviafadhila

Baca juga : Yuk, Masak Timlo, Kuliner Khas Solo yang Legendaris

Kluwak sendiri asal muasalnya adalah tanaman yang subur di daerah Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Oleh karena itu ada yang menyebutnya sebagai buah Kepahiang. Mengkonsumsi buah ini melebihi batas kewajaran dan dalam kondisi mentah,  bisa menyebabkan pusing atau mabuk karena bijinya mengandung asam sianida yang tinggi. Dari sinilah awal mula istilah “mabuk kepahiang” menjadi ‘mabuk kepayang’. Orang yang jatuh cinta dikenal dengan mabuk kepayang karena memang kadang kelakuannya memusingkan, bukan?


Sumber : pixabay.com/wonderfulBali


Kembali ke rawon yang membuat mabuk kepayang saking enaknya. Proses memasak rawon sebenarnya tidak begitu sulit. Ada teknik tersendiri yang membuat rawon menjadi lezat. Selain bumbu-bumbu yang pas, daging rawon pun menjadi kunci.


Daging yang ideal untuk rawon adalah yang mengandung sedikit lemak. Walaupun saat ini mulai marak rawon kikil atau buntut sapi. Untuk perebusan yang hemat waktu dan energi, gunakan teknik 5-30-7. Rebus daging yang telah dicuci bersih selama 5 menit kemudian diamkan sekitar 30 menit kemudian rebus lagi selama 7 menit.

Baca juga : Ide Jualan Selat Solo, Hidangan Sepinggan yang Bersejarah

Saya mendapatkan resep rawon dari ibu saya. Resepnya jadul banget dan dikirim via WhatsApp berupa foto tulisan tangan beliau. Berikut foto tulisan resep tersebut :


                                                      Sumber gambar : koleksi pribadi


 

Terbaca?

Baiklah, saya terjemahkan disini :

Bahan :

500 gram daging sapi, rebus, potong-potong sesuai selera

4 butir kluwak besar atau 5 butir jika ukuran kecil

Bumbu :

3 lembar daun salam

1 jempol jahe, dikeprek

1 jempol lengkuas, dikeprek

1 batang serai, dikeprek

3 lembar daun jeruk, diambil tulangnya

½ sendok the jinten, disangrai dan dihaluskan (bisa diganti jintan bubuk)

4 butir kemiri disangrai

Bumbu dihaluskan :

Kluwak beserta air rendaman

5 bawang merah, 4 bawang putih

1 cabe merah besar buang isinya

Bumbu bubuk

¼ sendok teh lada bubuk

½ sendok teh ketumbar bubuk

½ sendok teh kunyit bubuk

Gula, garam, penyedap rasa secukupnya

3 biji asam jawa (diambil airnya)

 

 

Cara membuat :

Rebus daging sampai empuk, sisakan kaldunya ¼ liter atau 5 gelas. Tumis bumbu halus hingga harum, masukkan daun salam, lengkuas, jahe, serai, daun jeruk, aduk-aduk hingga harum.

Masukkan daging dan tumis hingga daging berubah warna menjadi coklat.

Masukkan tumisan daging beserta bumbu ke air rebusan daging yang telah dididihkan.

Masukkan bumbu bubuk (lada, ketumbar, kunyit, gula, garam, penyedap) dan air asam jawa. Koreksi rasanya. Biarkan mendidih dengan api kecil hingga bumbu meresap, kemudian matikan api.

Penyajian :

Rawon akan lebih komplit bila dinikmati dengan telur asin dan kerupuk udang

Pelengkapnya tauge pendek mentah, sambel terasi, jeruk limau.

 

Nah, cukup sederhana kan proses pembuatannya? Walaupun simple tetapi rasa yang dihasilkan sangat kaya karena mengandung aneka ragam rempah-rempah. Cobain, yuk!

 

Keep healthy, wealthy and happy!

 

 

Yogyakarta, 09 Februari 2022

Watoe Gadjah, Resto Unik Bernuansa Asik-Ada Sungainya!

 

Ragam wisata kuliner di Jogja seakan tiada habisnya. Tren terkini adalah kecenderungan dibangunya tempat makan sekaligus menawarkan pemandangan alam dan spot-spot foto yang menawan. Watoe Gadjah adalah salah satu resto yang tidak hanya menawarkan hidangan lezat tetapi juga tempat bersantai yang nyaman bagi seluruh anggota keluarga.


                Saya bersama rombongan datang ke Resto Watoe Gadjah atas rekomendasi seorang teman. Katanya resto ini cocok sekali untuk hang out bersama anak-anak. Kebetulan sekali, tujuan kami memang ingin mengajak anak dan keluarga berkumpul, bermain bersama, mengakrabkan kembali anak-anak sekelas yang lama tidak bertemu karena pandemi.


                Watoe Gadjah mengusung konsep tradisional dengan lebih banyak ruang bebas dengan pemandangan alam sekitar. Ada lapangan berumput untuk anak-anak berlarian. Sungai kecil yang mengalirkan air jernih di tengah area, gazebo-gazebo, dan bermacam spot foto yang instagramable.


·         Tempatnya nyaman banget

 

                                                Sumber : https://instagram.com/novianticahaya

    Anak-anak bisa bebas berlari-larian di lapangan ini. Sempat saya lihat mereka bahkan memainkan game “lampu merah, lampu hijau” yang populer karena serial Squid Game. Hmmm, heran juga bagaimana bocil-bocil ini begitu cepat menyerap informasi.

 

Senangnya ketemu teman-teman lagi, sambil mainan di sungai.

                                                Sumber : https://instagram.com/novianticahaya

 

Anak-anak ini terakhir bertemu sebelum pandemi, saat mereka masih kelas 1 SD. Demi menyegarkan ingatan dan kembali bersosialisasi dengan teman sekelas, kami mencoba berkumpul terlebih dahulu sebelum Pertemuan Tatap Muka di sekolah dimulai. Pemanasan, begitulah intinya. 

 

                                              Sumber : https://instagram.com/novianticahaya

 

                                               Sumber : https://instagram.com/novianticahaya

 

                                                      Semoga tambah semangat sekolahnya!

                                                   Sumber : https://instagram.com/novianticahaya

 

 

 

·     Banyak spot yang instagramable

Banyak pula spot foto yang cantik di sini sehingga tidak hanya anak-anak yang merasa senang, tetapi cocok pula untuk berfoto seru.

                                                        Sumber : dokumen pribadi

 


                                                        Sumber : dokumen pribadi




·           Makanannya enak-enak

    Menu makanan di Watoe Gadjah lebih bernuansa tradisional. Ada hidangan unik yakni Nasi Penggel khas Kebumen. Ini adalah nasi yang dikepal bulat seukuran bola pingpong, dilengkapi sayur lodeh, dan aneka lauk. Favorit anak-anak adalah ayam goreng dengan kremesan dan telur dadar krispi. Ada pula aneka snack seperti mendoan dan pisang goreng,


https://www.instagram.com/watoegadjah/


 

·         Lokasi Resto

Penasaran kan, pengen nyobain makan dan bersantai di Watoe Gadjah? Yuk, ajak anak-anak ke sini! Mudah kok mencari lokasi resto ini.  Tepatnya ada di Plumbon, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman. Catat jam bukanya ya, Senin-Jumat pkl 10.00-18.00 dan Sabtu -Minggu pukul 07.00-18.00. Seluruh karyawannya telah divaksin dan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Jadi, selamat bersantap dan berwisata!

Belajar dari Indari Mastuti, Perempuan yang Menggenggam Dunia dengan Indscript Creative

 

Perempuan-perempuan hebat di sekitar kita, banyak yang berasal dari kalangan ibu rumah tangga. Tak jarang mereka bahkan berpendidikan tinggi namun lebih memilih untuk tinggal di rumah demi berfokus pada keluarga. Menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan yang mulia karena anak-anak dan suami yang hebat, berawal dari rumah yang diurus dengan penuh kehangatan oleh sang ibunda. Akan tetapi, menjadi seseorang yang melulu di rumah bukan berarti tidak bisa mengembangkan keahliannya. 

Kaki mengakar kuat di rumah, tetapi tangan menggenggam dunia, bisa dilakukan seorang perempuan ibu rumah tangga. Prinsip inilah yang dipegang oleh Indari Mastuti.

                           Indari Mastuti,owner Indscript Creative (sumber :IG @indarimastutirezky)

 

            Mengenal lebih dekat sosok Indari Mastuti, tidak lepas dari Indscript Creative, begitu pula sebaliknya. Indscript Creative adalah suatu agensi kepenulisan yang menjembatani antara penerbit dan penulis. Indari Mastuti dan Indscript Creative telah memberdayakan ribuan penulis perempuan di Indonesia.

 

Hasil kerja keras tangan dinginnya selama kurang lebih 14 tahun tidak hanya membawa manfaat pada terpercayanya nama Indari Mastuti dan Indscript Creative tetapi juga menjadi penebar rejeki pada kaum perempuan terutama ibu rumah tangga. Dirintis sejak 8 September 2007, Indscript Creative kini semakin melaju bahkan di tengah gempuran badai pandemi.

 

Menyimak kisah Indari Mastuti dalam membesarkan Indscript Creative, bagaikan memutar film action. Bagaimana tidak, seorang perempuan yang begitu cekatan dan gerak cepat membaca peluang. Apalagi di zaman serba digital saat ini, bisnis harus berjalan sesuai dengan situasi, kondisi, dan tren di masyarakat. Indari Mastuti tak pelit membagikan kisah perjalanan merintis Indscript Creative dan kiat-kiatnya untuk bertahan sekaligus berinovasi.

 

Awal Mula Berdirinya Indscript Creative

Menulis memang menjadi passion Indari Mastuti sejak awal. Mulai menulis di media cetak sejak 1996 dan bergabung dengan Kompas Gramedia sejak 2005 membuat dunia literasi menjadi pilihan utama ketika Indari Mastuti memutuskan berhenti dari pekerjaan sebagai marketing dan fokus menjadi ibu rumah tangga. Tak ingin hanya menjadi “ibu rumah tangga biasa”, Indari Mastuti sekaligus ingin tetap mengasah potensinya dan terus berkembang. Pilihannya adalah berkarya lewat tulisan.  Pilihan yang sangat jitu karena sembari mengurus keluarga, hobi yang ditekuni bisa menghasilkan uang. Pada mulanya Indari Mastuti masih menggunakan namanya sendiri untuk menawarkan tulisan-tulisannya ke penerbit. Kemudian usahanya berkembang menjadi agensi penulis, yaitu pihak ketiga yang menjembatani antara penulis dengan penerbit. Sambutan terhadap agensi ini sangat bagus, hingga pada awal 2008, atas saran sang suami, lahirlah nama ‘Indscript Creative’. Ind adalah Indari. Script berarti tulisan. Creative adalah cerminan dari karya-karya yang dihasilkan adalah karya kreatif dan berbobot.

Untuk membantu penulis-penulis perempuan yang lain, Indari Mastuti mendirikan komunitas “Ibu-ibu Doyan Nulis” atau lebih tenar dengan IIDN. Tak tanggung-tanggung, hingga kini anggotanya berkisar 22.000. Komunitas ini aktif melahirkan banyak karya dan berbagai event kepenulisan. Penulis yang telah melahirkan lebih dari 300 antologi ini juga melebarkan komunitas ke “Ibu Ibu Doyan Bisnis” yang menjadi wadah bagi perempuan yang ingin berbisnis. Selain itu masih ada lagi Sekolah Perempuan untuk ajang belajar menulis. Ya, kesemuanya beranggotakan perempuan, mayoritas ibu rumah tangga. Ini memang sesuai dengan fokus awal Indari Mastuti dan Indscript. Harapannya, akan lebih banyak perempuan yang tetap bisa produktif, tetap bisa meraih cita-citanya, walaupun “kaki”nya kuat mengakar di rumah.

 

Berbagai Inovasi Bisnis Indscript Creative

Inovasi usaha ( gambar oleh Michal Jarmoluk/Pixabay.com)

Pada awal terbentuknya, Indscript menawarkan jasa agensi penulis buku, tetapi seiring waktu kini telah melebarkan sayap ke berbagai macam jenis usaha.

Agensi Penulis-2007

Bisnis inilah yang menjadikan nama Indari Mastuti dan Indscript Creative mulai dikenal. Agensi akan menawarkan naskah yang potensial ke penerbit. Kemudian penerbit akan menerbitkan naskah tersebut menjadi buku. Ada satu langkah unik dari  Indscript yaitu pernah“menjual” hanya sebatas judul ke penerbit. Judul-judul mana yang sekiranya layak, akan dikembalikan untuk diolah lebih lanjut dalam tulisan yang menarik. Penerbit yang diajak bekerja sama bukan hanya penerbit mayor, melainkan juga penerbit indie.

Pembuatan Biografi-2009

Inovasi pertama Indscript Creative adalah jasa pembuatan biografi. Dirintis sejak 2009 dengan klien pertama owner Amanda Brownies. Pembuatan biografi dilirik oleh orang-orang ternama dan pengusaha besar. Beberapa klien yang pernah membukukan biografinya melalui Indscript Creative adalah Teh Ninih, Atalia Praratya Kamil, Siti Muntamah Oded, dan tokoh-tokoh lain.

Direct Selling-2015

Terbersit dari keinginan untuk cashflow harian, Indari Mastuti melebarkan bisnisnya ke penjualan langsung atau direct selling. Tidak hanya menjual buku-buku keluaran Indscript, tetapi juga berbagai macam board. Melalui channel telegramnya, Indari Mastuti membina para reseller secara kontinyu.

Percetakan Buku-2020

Sejak tahun 2020, dikembangkanlah brand Bukuin Aja!. Percetakan yang mencetak buku-buku karya antologi, buku-buku karya Indari Mastuti, maupun dari klien lainnya. Bahkan di masa pandemi ini, Indscript justru mampu membeli mesin cetak sendiri.

Agensi Blogger, Terhubung.co.id, dan Rumah Teh Iin-2021

Tahun 2021, Indari Mastuti merangkul para blogger dan ingin merekrutnya dalam suatu agensi yang memudahkan tersambungnya  klien/pengguna jasa dengan para blogger. Impiannya adalah mengumpulkan 1000 blogger dalam agensi ini. Perekrutan dilakukan dengan campaign ke berbagai komunitas blogger dan mengadakan challenge untuk rekruitment. Peminatnya sangat besar, tak heran, karena nama Indari Mastuti dan Indscript Creative adalah jaminan mutu dalam dunia kepenulisan.

Pada tahun ini pula, seakan tak henti menelurkan ide cemerlang, dibentuklah marketplace khusus perempuan bernama Terhubung.co.id. Selain itu, Indari Mastuti dan sang suami akan menyapa melalui YouTube bertema keluarga dan lika liku pernikahan, yaitu channel Rumah Teh Iin.

 

Strategi Jitu Indari Mastuti dan Prinsip 4 Kaki Meja


kerjasama dan kompak dalam bekerja (gambar oleh Mohammed Hassan/pixabay.com)


Tentunya bukan melulu hal bahagia dan sukses yang menemani sebuah perjalanan usaha. Konon, pengalaman adalah guru terbaik. Pernah terpuruk pada tahun 2010 adalah pengalaman buruk sekaligus hikmah bagi Indari Mastuti dan Indscript Creative. Terpaksa merumahkan belasan karyawannya karena kegagalan manajemen, tidak membuatnya mati langkah. Justru hal tersebut memicunya untuk lebih mendalami bisnis dengan mengikuti bermacam pelatihan dan mentoring. Kunci kelancaran sebuah usaha menurut Indari dapat dicapai dengan menyeimbangkan 4 poin penting dalam perusahaan, yakni bagian produksi, operasional, sales dan marketing, serta keuangan. Keempatnya layaknya kaki meja yang menopang perusahaan. Jika satu bagian timpang atau patah, goncang pula perusahaan tersebut.

 

Kuncinya adalah Tim yang Cekatan dan Networking

networking itu penting (gambar oleh geralt/pixabay.com)


Terbiasa berpikir inovatif dan serba cepat, membuat Indari merekrut karyawan yang rata-rata berusia muda. Generasi ini dianggap lebih taktis terhadap perubahan, paham tren, penuh energi dan bisa menterjemahkan ide-ide Indari Mastuti. Dalam perusahaannya diterapkan 5 Budaya Bekerja yaitu Kreatif, Inovatif, Inisiatif, Komunikatif, dan Pembelajar. Tak heran dengan tim yang keren  serta budaya kerjanya, mampu membuat Indscript Creative terus bertahan dan semakin maju. Hal lain yang tak kalah penting adalah menjalin networking seluas-luasnya. Indscript Creative telah membangun network baik di dalam maupun luar negeri melalui wadah Business Network International dan Indonesia-Japan Business Network.

 

Mental adalah modal terbesar dibandingkan berapa jumlah uang yang Anda hasilkan saat ini – Indari Mastuti. 

Membina mental pengusaha memang tak semudah membalik telapak tangan, akan tetapi bukan hal yang mustahil. Indari Mastuti sudah membuktikan beliau mampu menjadi mompreneur sekaligus writerpreneur sejati. Sederet prestasi dan penghargaan yang diperolehnya menunjukkan bahwa perempuan, meskipun berstatus ibu rumah tangga, bisa mewujudkan mimpi dan mampu berkarya besar.

Semoga bacaan ini bisa menginspirasi dan memotivasi.

Yuk,Masak Timlo, Kuliner Khas Solo yang Legendaris

 

    Ketika duduk di bangku SMA, saya merantau ke Solo. Jarak kampung halaman di Boyolali dengan sekolah saya, yaitu SMA 1 Surakarta, sekitar 26 kilometer.  Angkutan umum untuk menuju ke sekolah pada tahun 90-an tidak mudah, harus ganti bis 2 kali. Maka saat itu saya memutuskan untuk kos di seputaran Kepatihan Kulon.


    Saya sekelas dengan anak Jakarta tetapi tinggal bersama neneknya di lingkungan dalam beteng keraton Solo. Teman inilah yang suatu hari menanyakan pada saya, “Sudah pernah makan timlo?” Menurutnya timlo identik dengan Solo. Timlo adalah kuliner andalan kota Solo yang terkenal enak dan dia sangat heran dengan saya karena belum pernah sama sekali mencicipinya.


    Dari situlah awal pertemuan saya dengan timlo di warung Timlo Sastro, pojokan Pasar Gede. Timlo Sastro bisa jadi andalan kuliner timlo di Solo, karena berdiri sejak tahun 1958 dan tidak banyak mengalami perubahan rasa. Tetap enak dan “ngangeni” hingga kini. Tidak salah apabila timlo menjadi kuliner andalan Solo karena selain rasanya yang enak dan  bisa dinikmati segala usia, masakan ini tampilannya menarik dan unik. Oke, mari sini saya gambarkan tentang Timlo Solo :


kehangatan dalam semangkuk timlo (foto dokumen pribadi)


    Dalam semangkuk Timlo, ada irisan daging ayam rebus, potongan ati dan ampela goreng,  pindang telur ayam yang kecapnya murah hati sehingga benar-benar coklat hingga ke dalam, beberapa iris sosis solo, jamur kuping, wortel,  soun, dan keripik kentang.
    Semuanya diguyur dengan kuah yang ngaldu sekali, sangat gurih namun ringan dan segar. Mirip kuah sop, namun lebih terasa jahenya. Tidak neg karena tanpa santan. Biasa dinikmati dengan nasi putih, emping goreng, sambal kecap dan sedikit kucuran jeruk nipis. Hmmm..terbayang nikmatnya disantap hangat-hangat. Sosis solo yang dipakai di sini biasanya sosis kosong alias tanpa isian, jadi mirip telur gulung.


                Dosen Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Heri Priyatmoko, memastikan bahwa Timlo adalah hasil berkembangnya Sup Kimlo asal Tionghoa. Kimlo adalah hidangan berkuah asal Cina, berkembang menjadi Sup Kimlo di Jawa Timur dan Jawa Tengah, terutama di Kawasan Pecinan.


Dalam buku Indrukken van een totok (1897) yang memuat pengalaman kuliner seorang wisatawan Belanda bernama Justus Van Meurich pada tahun 1800-an, diungkapkan bahwa pada masa itu beredar pedagang keliling menggunakan pikulan, menjajakan sop Cina yang sangat populer. Sop ini dikenal dengan nama Kimlo, dinikmati dalam mangkuk porselen kecil-kecil, dimana pembeli menikmatinya sambil berjongkok mengelilingi sang penjual.


Sebuah buku resep masakan berjudul Poetri Dapoer (1941) yang disusun oleh wanita Tionghoa bernama Lie Hiang Hwa (Penerbit Chen Company) Solo juga memuat tentang timlo, yakni panduan cara memasak Sup Kimlo dengan wajan. Bahan-bahan yang digunakan antara lain bawang merah, daging, garam, kecap, air, soun, japur kuping, kincam, udang basah, kentang, dan kubis. (Republika.co.id).


Menilik dari asal muasalnya, tidak heran jika timlo berkembang dari sudut pasar Gede yang banyak dikelilingi pemukiman Tionghoa. Bahkan sempat memberi tekanan bagi penjualnya pada masa Orde Baru. Sebagaimana tahu dan tempe yang telah menyusuri jalan panjang sejarah, timlo juga melewati gempuran zaman, dan  berhasil menjadi makanan ikonik yang digemari para pelancong. Mengganti hurup K pada kimlo, menjadi timlo yang lebih mudah pelafalannya, serta mengubah resep asli yang mengandung daging babi dengan daging ayam, menjadikan timlo bisa diterima semua kalangan. Rasanya kurang afdol jika berkunjung ke Solo tanpa menikmati timlo.

baca juga : http://www.cahayanovi.com/2020/09/wedangtahu-pasar-kranggan-jajanan-jadul.html


Dalam keluarga kami ada tradisi menyajikan timlo setiap lebaran. Biasanya kami mengadakan jamuan makan bagi para saudara dan tamu. Selalu ada Timlo segar untuk mendampingi opor dan sambal goreng yang merupakan "hidangan wajib" lebaran.  


 Isian timlo disiapkan dalam mangkuk kecil-kecil dengan kuah terpisah. Para tamu tinggal menambahkan kuah yang selalu panas di atas kompor parafin ke dalam mangkuk mereka masing-masing. Hidangan ini paling cepat habis dibandingkan ketupat dan segala pelengkapnya. Ibu begitu piawai mengolah sehingga timlo buatan beliau menjadi favorit seluruh keluarga besar.

Berikut resep timlo :

Kaldu

Bahan :

·         1 ekor ayam kampung

·         4 liter air

·         1 butir bawang Bombay ukuran sedang

·         8 siung bawang putih cincang kasar

·         3 cm jahe

·         1 bungkus kaldu blok (saya menggunakan merk Maggie blok/knorr)

·         Merica

·         Pala

·         Gula,garam, penyedap rasa secukupnya

Cara Membuat

Rebus ayam dengan api kecil hingga air agak menyusut dan kaldu keluar.

Tumis bawang Bombay,bawang putih, jahe, masukkan ke rebusan ayam. Tambahkan pala, merica, gula, garam, kaldu blok, dan penyedap. Tunggu hingga mendidih beberapa lama. Sisihkan ayamnya untuk isian timlo. Koreksi rasa, dan kuah timlo telah siap pakai.

kaldu timlo, bisa disaring dulu sebelum dihidangkan (foto dokumen pribadi)


Isian

isian timlo lengkap tanpa bunga sedap malam (foto dokumen pribadi)


·      Wortel iris bulat tipis, rebus.

·         Jamur kuping rebus, iris sedang

·         Soun direndam air hangat hingga empuk

·         Keripik kentang (bisa beli jadi atau iris kentang tipis-tipis kemudian digoreng kering)

·         Telur pindang coklat (telur rebus yang dimasak dengan bumbu bawang, garam,kecap dan merica hingga telur berwarna kecoklatan)

telur pindang coklat (dokumen pribadi)



·         Ati ayam direbus dengan sedikit garam, kemudian digoreng. Daging ayam dari rebusan kuah dipotong dadu

·         Sosis solo tanpa isi (dari 2 telur,100 gram tepung, dan air secukupnya)

adonan telur,tepung, dan air didadar dengan wajan teflon (foto dokumen pribadi)


digulung setelah didadar (foto dokumen pribadi)

sosis siap dipakai untuk pelengkap timlo (foto dokumen pribadi)

·         Bunga sedap malam kering, direbus (optional)

 

Penyajian

    Tata semua bahan isi di dalam mangkok, siram dengan kuah timlo panas-panas. Timlo yang lezat sudah siap disantap.





Nah, mudah kan, cara membuatnya. Silakan dicoba. Mumpung masih dalam suasana lebaran, bisa jadi alternatif sajian yang menyegarkan setelah serbuan semua yang serba santan seperti opor, sambal goreng, rendang, dan teman-temannya.


artikel ini dibuat untuk memenuhi tantangan Pasukan Blogger Joeragan Artikel bulan (Mei) 2021, tema “Resep Masakan”

 

Taqabalallahu minna waminkum, taqabal yaa kariim

Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.





Boyolali, 23 Mei 2021


Cahaya Novianti























 


Memanfaatkan Peluang di Tengah Pandemi

 

Mencari peluang di tengah bencana, adalah cara bertahan hidup  yang alami. Apalagi dengan adanya pandemi panjang seperti yang terjadi saat ini. Peluang yang sudah ditemukan tidak akan memberi manfaat apapun kecuali dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.

Bagaimana cara memanfaatkan peluang yang ada di tengah pandemi? Memanfaatkan peluang di sini tidak semata harus bernilai ekonomis. Tidak semua orang harus jualan. Berikut  beberapa hal kecil yang mungkin berguna.


Lebih Banyak Waktu untuk Rumah


sumber : pixabay




               Masa kuncitara atau istilah asingnya lockdown memang tidak menyenangkan. Tidak bebas pergi kemana pun yang kita mau. Ada syarat-syarat dan protokol kesehatan ketat yang harus ditaati. Dengan adanya pembatasan ini, ada peluang yang bisa dimanfaatkan, di antaranya adalah waktu. Waktu luang yang biasa dihabiskan dengan bepergian, bisa dimanfaatkan misalnya untuk lebih memperhatikan kondisi rumah. Biasanya jika akhir pekan tiba,kita sibuk berkemas untuk jalan-jalan. Kapan lagi bisa meluangkan waktu untuk lebih memperhatikan isi rumah kita? Memilah perabotan, menyusun koleksi majalah atau novel-novel lama, menyisihkan pakaian pantas pakai untuk disumbangkan, dan banyak lagi hal-hal kecil dalam rumah yang terkadang luput dari perhatian karena kurangnya waktu.


Guru Privat bagi Anak

sumber : pixabay


               Pembelajaran jarak jauh membuat fungsi guru di sekolah sebagian besar berpindah pada orang tua. Mau tidak mau orang tua harus terlibat dalam KBDR ini.  Untuk anak saya yang sudah menginjak bangku SMA, biasanya saya hanya berfungsi sebagai penyedia bekal, penyedia uang saku, dan hanya sesekali mendengar cerita-ceritanya tentang sekolah atau teman-temannya.  Tetapi dengan adanya KBDR, saya bisa tahu lebih banyak tentang kegiatan sekolahnya. Bahkan bisa tahu suasana kelasnya melalui zoom. Iya, sesekali saya ikut mendengarkan zoom atau google meet kelasnya.  Anak saya yang biasanya “gaul” dan banyak kegiatan di luar, memiliki lebih banyak waktu bermain dengan adiknya yang masih SD.


Untuk anak yang masih sekolah dasar, akan lebih banyak lagi pendampingan yang harus dilakukan. Positifnya adalah kita bisa tahu secara langsung  perkembangan anak. Bagaimana cara dia menyimak materi yang diberikan guru. Mengajari cara menulis yang lebih rapi, bersama-sama membuat prakarya, dan yang paling seru menurut saya adalah membuat video tugas. 

Tugas yang diberikan guru memang sengaja harus melibatkan anggota keluarga. Saya selalu senang jika ada kegiatan membantu tugas rumah tangga. Anak bisa dilatih menyapu, menjemur baju, dan memasak. Aktivitas ini selain melatih tanggung jawab anak, juga mendidik kemandirian dan ketrampilan dasar dalam kehidupan.


Inilah yang saya  sebut sisi positif dari pandemi. Satu anak memiliki satu guru. Anak seolah memiliki guru privat. Meskipun harus ada yang dikorbankan yaitu waktu orang tua. Tapi demi pendidikan anak, demi membentuk kenangan manis dengan orang tuanya saat KBDR,  apa yang memberatkan kita?

 

Mengembangkan Potensi Diri

sumber :pixabay


            Mungkin selama ini kita tak sempat memikirkan potensi diri yang tersimpan. Entah karena kesibukan atau hal lain. Justru di saat pandemi ini, di sosial media banyak penawaran untuk aneka ragam kursus jarak jauh. Tanpa perlu menghabiskan waktu di perjalanan, kita bisa belajar sesuai minat. Semenjak pandemi, saya pribadi mengikuti kursus menulis online. Sesuai hobi saya.  Dari kursus ini saya jadi bisa berkenalan dengan banyak perempuan dengan kesukaan yang sama, yaitu menulis. Dari kursus menulis berlanjut ke pembuatan blog. Hingga mempercantik dan mengoptimalkan blog.  Beruntung sekali karena bisa menambah jejaring sosial dan sekaligus meraup ilmu. 

baca juga : 5 Cara Meningkatkan Potensi Diri untuk Hidup Lebih Sukses

 

Peluang Menebar Kebaikan


sumber : liputan 6.com


            Semenjak pandemi, banyak digalakkan lumbung sosial, terutama di pedesaan. Seperti yang dilakukan beberapa wilayah di Yogyakarta. Sebut saja Lumbung Rejodani di Yogyakarta, dimana warga menggantungkan plastik-plastik berisi sembako yang bebas diambil oleh siapapun yang membutuhkan. Atau Dapur Musafir di Jawa Barat. Di Dapur Musafir, pemrakarsanya adalah seniman. Seperti kita tahu, banyak seniman yang terkena imbas pandemi ini, dan mereka kompak untuk saling dukung dan menguatkan.

            Berangkat dari ide yang sama, seorang ibu di  Kelurahan Jajar, Laweyan Solo juga melaksanakan pembagian bahan masak mentah kepada tetangga sekitar. Namun untuk menghindari kerumunan, bahan masakan ini diantar dari rumah ke rumah. Proses pengantarannya pun diatur, misalnya minggu ini untuk warga RT 1, maka minggu berikutnya sumbangan diberikan ke RT 2, dan seterusnya.


 Ide saling berbagi lahir dari keprihatinan warga karena masa pandemi  yang panjang ini menyebabkan goncangnya perekonomian masyarakat. Keterbatasan mobilitas dan banyaknya pemutusan hubungan kerja mengakibatkan daya beli menurun.  Bagi mereka yang mampu, akan bersedekah bahan masakan atau sembako, dan bagi yang membutuhkan, bisa mengambil dari rak tersebut dengan cuma-cuma. Kelihatannya sederhana, namun inilah pengejawantahan gotong royong yang sebenarnya.  Warga saling menguatkan, siaga menghadapi bencana, baik bencana kesehatan, maupun imbasnya yaitu bencana ekonomi.

 

Mulailah melihat ke sekeliling. Banyak hal baik yang bisa dilakukan, banyak peluang terbuka lebar,  selain mengeluhkan pandemi berkepanjangan.

Yuk, bisa yuk!



Tulisan ini Diikutsertakan dalam 30 Days Writing Challenge Sahabat Hosting