Sahabat di Dunia, Sahabat di Surga

    Kita punya dua jalan dalam berteman. Teman karena jalan takdir yang tidak bisa diubah dan tidak bisa dipilih ulang adalah kedua orang tua. Sejak terlahir ke dunia, ayah ibu lah teman kita yang pertama. Selain ayah dan ibu, adik dan kakak adalah teman pertama kita. Keberadaan mereka adalah pemberian dari Tuhan yang merupakan berkah tersendiri. Ketulusan mereka tak berbalas, tak terbatas, dan tanpa pamrih. 


    Jalan kedua adalah teman karena pilihan. Sewaktu kecil kita memiliki banyak teman. Teman sekolah atau teman main di rumah. Dari berbagai kalangan dan berbagai tipe manusia. Namun, semakin bertambah umur, lingkaran pertemanan ini biasanya akan terbagi dalam circle-circle tertentu sesuai interaksi yang kerap terjadi. Teman di tempat kerja, teman kursus, teman arisan, dan banyak lagi pengkotak-kotakan yang kita buat terhadap jaringan pertemanan ini. 

     Dalam berteman, ada kriteria tertentu yang membuat seorang “teman” naik status menjadi “sahabat”. Sahabat memiliki arti yang lebih khusus. Biasanya hanya beberapa orang terdekat yang kita percayai. Sahabat adalah teman yang terpilih dari sekian banyak. Bagaimana kriteria seorang sahabat yang baik? Yang tidak hanya menjadi sahabat kita di dunia namun juga tetap bergandengan di surga. Yuk, kita bahas lebih lanjut di bawah ini.


Mengingatkan Pada Kebaikan

            Semakin dekat pertemanan, biasanya tidak akan ragu lagi untuk saling mengkritik. Jika sahabat kita melakukan hal yang tidak baik, sudah seharusnya kita beri teguran. Kritik yang jujur akan lebih baik. Layaknya obat, walaupun pahit, akan menyembuhkan. Dibandingkan dengan puja puji yang manis namun meracuni.

Mendukung Saat Jatuh, Menolong Saat Sulit

            Inilah yang paling kita harapkan dari seorang teman apalagi seorang sahabat. Saat senang, pasti banyak yang mengelilingi kita dan mudah saja untuk mengajak teman beraktivitas atau berkegiatan dengan tujuan bersenang-senang. Tapi saat susah, adakah? Ada cerita tentang  seorang teman yang kaya raya, bisnisnya sukses besar, harta melimpah di mana-mana. Dalam grup alumni, dia adalah “boss” yang royal mentraktir sana sini.  Hidayah menghampiri sang teman ini, beliau hijrah, meninggalkan riba dan menjual asset-assetnya untuk menutup hutang riba. Yang terjadi adalah bisnisnya meredup. Satu demi satu teman meninggalkan sang Boss karena sudah tidak “asik” lagi diajak gaul. Sudah tidak seru lagi nongkrong dengan dia karena beliau lebih banyak bicara agama. Rugikah? Secara kasat mata mungkin iya, namun sejatinya Tuhan telah menseleksi teman untuknya. Sahabat-sahabat palsu berganti dengan sahabat sejati yang selalu mengingatkan pada kebaikan. Setelah bergaul dengan mereka yang paham agama, beliau lebih meningkat keimanannya. Lebih banyak beramal dan meninggalkan foya-foya. Sahabat seperti inilah kelak akan membawa kita tetap berkumpul di surga.

 Jangan Menikamku dari Belakang

            Seorang sahabat yang baik tidak akan menyebarkan aib sahabatnya. Bergosip biasanya adalah ajang penyebaran aib. Mula-mula hanya diawali dengan “eh, katanya…” kemudian bisa sambung menyambung menjadi novel penuh bumbu. Tidak terasa menggosip jika sudah diselimuti dengan alibi menyampaikan fakta. Rahasia yang dipercayakan sahabat kepada kita, seharusnya adalah amanat yang wajib dijaga. Bukan menjadi bahan obrolan untuk mencairkan suasana. Menceritakan rahasia, apalagi hal yang memalukan, bagaikan menusuk dari belakang. Akibatnya adalah hilangnya kepercayaan dari sahabat bahkan kehilangan persahabatan itu sendiri.

Bantu Aku, Jangan Tinggalkan

    Pernahkah Anda melihat sebuah vespa yang mogok di jalan, kemudian tak berselang waktu, ada vespa lain yang menghampiri dan menolong? Inilah sebuah contoh kecil solidaritas persaudaraan skuter. Karena merasa senasib dan memiliki tunggangan yang sama, persahabatan bisa terbentuk, bahkan sedekat saudara. Seperti layaknya pengendara vespa yang tidak meninggalkan teman yang vespanya mogok, seharusnya kita pun bersikap demikian. Jika ada sahabat yang mengalami kesulitan, bantulah semampunya. Kalaupun kita tidak mampu, hubungkan dengan kawan lain yang bisa menolong. Jangan tinggalkan.

Semoga kita semua bisa dipertemukan dengan orang-orang baik, yang selalu mengajak kepada kebaikan. Tak lelah bersama-sama meng-upgrade keimanan, dan menjadi jalan agar tetap menjadi sahabat hingga kelak di surga.

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam 30 Days Writing Challenge Sahabat Hosting


 
14 komentar on "Sahabat di Dunia, Sahabat di Surga"
  1. Teman sehidup sesurga 😍😍😍

    BalasHapus
  2. ah manis sekali ini tulisannya, intinya kita kudu selektif cari kawan ya mba. Aku seneng sekarang punya banyak teman blogger yang menginspirasi dari tulisannya, seenggaknya mereka secara nggak langsung mengingatkan dalam kebaikan untuk kita meski dari jauh, melalui tulisannya :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali mbak, saya tersadar nih, ternyata ada berkah berupa teman-teman blogger, yang walaupun masih baru tapi sangat menginspirasi dan tidak pelit berbagi ilmu. Semoga jadi ladang kebaikan kita ya

      Hapus
  3. Pandai-pandai memilih teman ya mbak, biar bisa jadi sahabat dan teman ke surga.

    BalasHapus
  4. Sejak ada media sosial malah jadi banyak teman, walaupun teman virtual. Apalagi teman-teman bloger malah tulisannya menginspirasi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar sekali mbak Hani. Berbagi kebaikan lewat tulisan, sangat berarti buat saya. Terimakasih teman2 virtualkuuu

      Hapus
  5. Kalau saya sih jujur lebih menyukai sahabat yang mau mengatakan salah jika memang saya salah. Kemudian mengingatkan dan memberi masukan yang baik. Ketimbang seorang yang selalu mengiyakan apa pun kata kita. Padahal belum tentu itu membawa kebaikan.

    Dan saya setuju dengan ibarat yang digunakan. Obat itu memang pahit. Tapi mampu menyembuhkan. Sementara, kita nggak tahu racun akan dicampurkan pada makanan apa. Terlihat enak, tapi malah mematikan. Hmm...

    BalasHapus
  6. Masyaa Allah teman sejati memang selalu membawa kita lebih baik dalam segala hal ya, mba. Tolong menolong, wah tulisannya sangat inspiratif😍

    BalasHapus
  7. Amiin, Salah satu rezeki itu memang teman baik, teman rasa saudara, teman yang mau mengajak pada kebaikan dan mengingatkan jika salah. Kalau teman yang manis-manisnya doang, ya nggak tahu kita gimana isi hatinya.

    BalasHapus
  8. Memilih teman menjadi sahabat itu yang menjadi masalah penting. Sebab kita bisa punya banyak teman tapi sedikit yang bisa menjadi sahabat. Semoga dari yang sedikit itu kita bisa saling menguatkan. Amin. Sehat selalu ya mba Novi.

    BalasHapus
  9. Setuju, sahabat kita di dunia semoga juga tetap bergandengan di surga. Sulit bisa menemukan teman yang kemudian bisa naik kelas jadi sahabat, maka mesti kita rawat persahabatan itu sehingga ga hanya di dunia tapi kelak tetap bergandengan di surga.

    BalasHapus
  10. Alangkah indahnya memiliki sahabat yang bisa mengajak dan mengingatkan kita untuk ke jalan kebaikan ya, Mbak. Apalagi yang bisa mendorong kita berusaha untuk jadi penghuni surga

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9