Menyelusur Sejarah Panjang Gudeg, Ikon Kuliner Yogyakarta



    Pada abad ke-15 Panembahan Senopati bermaksud membangun kerajaan Mataram Islam di areal  hutan yang dikenal dengan nama Alas Mentaok. Wilayah hutan belantara yang kelak dikenal sebagai Yogyakarta ini memiliki banyak pohon nangka dan pohon kelapa.  Banyak buah nangka terutama yang muda, tersia-siakan sehingga mereka memikirkan cara bagaimana pemanfaatan buah-buah tersebut.   

    Kemudian para pekerja menemukan bahwa buah nangka yang masih muda ternyata sudah bisa diolah menjadi sayur dan enak rasanya. Jika nangka yang sudah masak berwarna kuning, berbau harum dan manis rasanya, buah yang masih muda berwarna pucat dan tanpa rasa. Untuk mengolah buah nangka yang hambar, ditambahkan bermacam-macam bumbu seperti bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, garam, gula, dan santan. Saat itu sayur dimasak dalam jumlah besar untuk memenuhi ransum para pekerja. Supaya mempermudah proses memasaknya digunakan kuali besar dan pengaduk seperti dayung kecil. Agar santan tidak pecah dan bumbu meresap sempurna, sayur diaduk-aduk terus dalam api kecil. Dari asal kata mengaduk, atau dalam bahasa Jawa disebut hangudek atau hangudeg, terciptalah nama gudeg. Sejarah menceritakan santap bersama Panembahan Senopati bersama para prajurit dan para pekerja dengan hidangan yang sama yaitu gudeg.


Kerajaan Mataram Islam yang didirikan Panembahan Senopati ini kelak terbagi menjadi kerajaan besar yaitu Yogyakarta dan Surakarta dengan dua wilayah khusus Mangkunegaran dan Pakualaman. Hal ini menyebabkan gudeg tidak hanya lekat dengan Yogyakarta namun menyebar pula ke Surakarta. Serat Centhini (1814-1823) yang notabene adalah karya barisan pujangga Surakarta menceritakan penyebaran gudeg ke wilayah Surakarta. Secuplik cerita di meja makan ketika Cebolang dan para santri lelana bertandang ke Wonogiri dan Tembayat, hidangan yang tersaji salah satunya adalah gudeg. 


Serat Jatno Hisworo lebih detail menggambarkan bahwa gudeg menjadi santapan penguasa kesultanan beserta para bawahannya. Diriwayatkan, Paku Buwana IX (1861-1893) memborong nasi gudeg plus nasi liwet yang diolah para bakul dari Baki, Sukoharjo. Hidangan ini disajikan untuk santapan para niyaga (pemain karawitan) yang menghibur keluarga kerajaan dengan pergelaran karawitan semalam suntuk.
sumber : https://tirto.id/


    Seiring dengan penyebaran gudeg, terjadi pula perubahan rasa sesuai kekhas-an daerah masing-masing. Gudeg Yogyakarta dikenal lebih kental dan  merah karena penambahan daun jati dan lebih manis. Gudeg Solo santannya agak kental dan lebih putih. 
Selengkapnya di :https://news.detik.com/


Selain berbahan dasar nangka muda atau gori, bunga kelapa atau manggar pun terkenal sebagai bahan gudeg yang lezat. Namun gudeg manggar agak sulit ditemukan karena memang bahan bakunya lebih susah didapat. 

Sebagai pelengkap hidangan gudeg adalah sambel goreng krecek, tahu, tempe, telur dan ayam yang dimasak dalam bumbu bersantan, sayur daun papaya dan areh santan yang kental dan gurih. Krecek sendiri adalah kerupuk yang terbuat dari  kulit sapi, kering mengembang ketika mentah dan bertekstur sedikit kenyal saat dimasak dengan bumbu sambal goreng. Selain daging ayam, beberapa penyaji gudeg juga menambahkan ceker atau kaki ayam yang kesemuanya dimasak sedemikian empuk dan berbumbu dengan santan yang mlekoh, alias bersantan, gurih, pekat, creamy, umami. Bahasa Jawa memang kaya dengan istilah singkat yang menjadi panjang ketika ditafsirkan. Gudeg ceker dan gudeg manggar bahkan memiliki fanbase atau penggemar tersendiri. Sensasi makan dengan tangan sambil nglamuti ceker yang berlumur bumbu memang tiada duanya.
Baca juga :http://www.cahayanovi.com

    Saking banyaknya penjual gudeg di Yogya, bahkan ada kampung gudeg di daerah Wijilan menjadikan makanan ini ikonik. Tak pelak lagi julukan Kota Gudeg tersemat bagi Yogyakarta. Inovasi dilakukan oleh para penjaja gudeg untuk menarik pembeli di antaranya gudeg mercon dengan penambahan krecek ekstra pedas, ataupun gudeg kering yang awet sehingga cocok untuk oleh-oleh. Pengemasan gudeg biasanya menggunakan kardus atau besek, yaitu kotak dari anyaman bambu ataupun kendil dari tanah liat. Bahkan telah tersedia pula gudeg dalam kaleng yang bisa tahan lama hingga berbulan-bulan. Gudeg kaleng dirintis oleh Gudeg Bu Tjitro 1925 dan kini telah banyak dipasarkan di berbagai wilayah.

 
Ada filosofi kesabaran yang terkandung dalam gudeg yakni dari lamanya proses pembuatan hingga beraneka ragam rempah yang digunakan di dalamnya. Untuk menghasilkan gudeg yang legit dan mantap rasanya, nangka muda dicuci bersih kemudian direbus selama kurang lebih 1 jam agar empuk dan hilang getahnya. Setelah melalui proses perebusan pertama, nangka muda masih direbus lagi dalam air berbumbu. Proses perebusan menggunakan api kecil atau sedang dan harus telaten diaduk-aduk agar santan tidak pecah. Di tahap inilah diperlukan kesabaran karena memasak gudeg  memakan waktu yang cukup lama apalagi jika menginginkan gudeg kering.


Sejak dulu hingga kini, gudeg tetap eksis dan dicari. Bukan saja karena rasanya yang enak dan mengenyangkan namun karena makanan ini telah menjadi budaya yang terus menerus dilestarikan






4 komentar on "Menyelusur Sejarah Panjang Gudeg, Ikon Kuliner Yogyakarta"
  1. Keren nih tulisan sejarah makanannya. Harus dilestarikan. Btw paling demen sama yg namanya gudeg. Apalagi gudeg yogya asli.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih banyak, tambah semangat nih!

      Hapus
  2. Ini salah satu makanan favoritku..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau saya suka gudeg yang nggak terlalu manis atau diimbangi sama sambel gorengnya yg puedes..hehhe

      Hapus

Terimakasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9